Kades Rumbuk:Warisan Budaya Para Leluhur Harus Tetap Dijaga dan Dirawat


Selong,Suaraselaparang-Peninggalan leluhur atau nenek moyang adalah merupakan aset yang sangat berharga yang mesti dijaga dan dilestarikan keberdaannya. Hal itulah yang dilakukan oleh masyarakat Desa Rumbuk Kec.Sakra Kabupaten Lombok Timur yang masih teguh menjaga warisan peninggalan leluhurnya berupa adat maupun benda-benda pusaka.

Ya pada pada rabu malam (19/8/20) bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1442 Hijriah atau yang dikenal dengan tahun baru islam telah melaksanakan sebuah upacara adat yang sangat disakralkan oleh masyarakat setempat.masyarakat disana menyebutnya dengan upacara Boteng Kekep.

Kepala Desa Rumbuk Suhirman,saat diwawancarai oleh suara selaparang pada sela-sela acara mengatakan, bahwa upacara Boteng Kekep adalah upaya pelestarian seni dan budaya itu sendiri.Sementara itu pelestarian budaya bukan suatu usaha bersifat elistis untuk membangkitkan feodalisme,tetapi merupakan upaya memelihara dan melindungi aset bangsa agar seluruh lapisan masyarakat mendukung pelaksanaan pembangunan bangsa dengan lebih berbudaya.sebab budaya merupakan aset penting terutama untuk pengetahuan dan memupuk jati diri bangsa. 

"Berbagai upaya melalui gelar seni dan budaya misalnya,terus menerus di lakukan dalam menjaga tingkat keterawatannya agar kondisi kelestarian warisan sejarah masa lampau tetap terawat dan terjaga dengan baik.karnanya,upacara Boteng Kekep ini diharapkan mampu memberikan edukasi kepada generasi penerus desa rumbuk supaya memahami dan mencintai serta merawat warisan para leluhur kita"ujarnya.

Suhirman menambahkan,Usaha-usaha pelestarian budaya memang tidak selalu berjalan mulus,namun banyak mendapat kendala sebagaimana dirasakan seluruh lapisan masyarakat dalam usaha pelestariannya.Urbanisasi,modernisasi,globalisasi dan tumbuhnya kota-kota industri telah mengancam keberadaan warisan budaya kita. 

"Akankah kita sebagai pemerhati seni dan budaya diam dan berpangku tangan tanpa berbuat sesuatu?Tidak,pagelaran seni dan budaya atau upacara Boteng Kekep yang di gelar kali ini di harapkan mampu merangsang masyarakat memelihara kebudayaanya. Dengan demikian,kembali ke budaya etnis bukan sesuatu yang negatif.gerakan etnosentris atau sebuah sikap meremehkan dan merendahkan budaya lain di belahan dunia saat ini sudah merupakan kenyataan global dan menjadi tantangan besar kita saat ini"tandasnya.

Ditempat sama,Sunardi,salah seorang tokoh adat kampung tanah gadang ini ikut memberi penjelasan.ia berucap,bahwa terkait senjata pusaka itu memiliki dua karakter sifat,yakni Naga Tapa dan Naga Polah.

"Polah itu artinya gerak,sedangkan Tapa itu artinya diam.sehingga tapa itu memiliki makna filosofis sebagai penyabar serta adem,dan polah itu filosofinya sebagai sosok karakter yang ganas dan garang.tetapi yang adem itu jangan dianggap dia tidak berbahaya,semua senjata pusaka itu sama berbahayanya namun karakternya saja yang berbeda"jelasnya.

Sunardi menambahkan,bahwa senjata pusaka merupakan benda mati,namun diyakini memiliki penunggu yang mengikutinya atau yang biasa disebut dengan khadam.karnanya,karakter sang pemilik benda pusaka juga akan mempengaruhi sifat benda pusaka tersebut namun tak semua orang dapat memahami itu.

"Makanya kan naga tapa yang bawaannya lebih adem itu kan jarang dia akur dengan orang yang karakternya beringas dan begitu juga sebaliknya.sehingga pemilik senjata pusaka itu mestinya dapat memahami dua karakter tersebut"imbuhnya.

Selanjutnya Sunardi menyampaikan,bahwa dalam upacara adat tersebut sesungguhnya mengandung nilai atau pesan moral,agar pemuda dapat memahami bahwa dalam memegang benda pusaka itu memiliki adap dan aturan.karnanya dalam kehidupan bermasyarakat para pemuda memiliki sikap adap yang harus dijaga sebagai peninggalan warisan para leluhur.

(ss-01)
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama