Selong,Suaraselaparang-Dalam rangka menyambut 1 Muharram 1442 Hijriah,masyarakat Desa Rumbuk menggelar acara adat budaya yang dipadukan dengan acara keagamaan yakni acara Dzikir Nyeribu (Zikir Seribu) dan Do'a bersama untuk arwah Papuk Balok atau Leluhur,serta mengumpulkan Benda-Benda Pusaka Leluhur Tanah Gadang dan Pancuran Desa Rumbuk hari ini (19/8/20).
Upacara boteng kekep dimulai pada pukul 14.00 wita yang ditandai dengan penabuhan gamelan.setelah itu,ketua panitia bersama dengan seluruh rombongan adat yang menjadi bagian dari acara tersebut yang di iringi oleh gamelan gendang beleq berjalan beriringan menuju rumah sesepuh desa rumbuk yang diyakini masih memiliki pemahaman terkait upacara adat Boteng Kekep tersebut yakni H.Sahdan (mantan bupati lotim) untuk meminta restu (ijin) dalam upacara tersebut.rencananya acara tersebut akan berakhir dini hari menjelang subuh,karna dalam kepercayaan masyarakat rumbuk benda-benda pusaka tersebut harus pulang ke rumah pemiliknya sebelum matahari terbit.
Disebut boteng kekep,karna inti dari upacara itu sendiri adalah mengukup (Membersihkan dengan dupa dan wangi-wangian) benda-benda pusaka peninggalan leluhur masyarakat desa rumbuk pada sebuah nekep,yaitu sebuah panggung yang terbuat dari pohon pinang berbentuk panggung persegi empat atau yang dikenal dengan empat penjuru mata angin yang sekelilingnya ditutupi dengan menggunakan kain putih dan pada setiap bagian sudutnya dihiasi dengan pohon bambu berbentuk penjor lengkap dengan daunnya,pohon tebu dengan daunnya,dan pohon pisang dengan buahnya.didalam balai nekep itulah nantinya (tengah malam) puluhan benda-benda pusaka tersebut akan di kukup (Bersihkan).
Menurut informasi yang dihimpun oleh suara selaparang.com,jumlah benda pusaka yang akan dikekep berjumlah 50 buah benda pusaka yang berasal dari desa rumbuk,dari pringgasela dan dari temanjor atau yang sekarang bernama desa tanah gadang.
Ketua panitia upacara,Wildan yang dikenal dengan sebutan nama ki Dalang,karna dia seorang dalang saat diwawancarai oleh suara selaparang menjelaskan,bahwa Boteng Kekep itu adalah panggung sakral untuk benda-benda pusaka warisan nenek moyang kita,khususnya yang ada di kampung tanah gadang dan kampung pancuran.karna dari kisah atau cerita para orang tua sesepuh bahwa tanah gadang dan pancuran itu bersaudara.benda-benda pusaka yang dimaksud adalah berupa keris,ada yang kalau dalam istilah pasak rumbuk itu panjekannya dan lain sebagainya.
"Semua benda pusaka itu tidak boleh sembarangan dikeluarkan,karna ini bisa keluar dalam waktu-waktu tertentu,seperti sekarang ini bisa keluar karna menyambut 1 Muharram.dan kami dari panitia bersama dengan tokoh pemangku memilih malam ini sebagai malam yang tepat,karna dalam rangka juga menyambut hari besar islam"jelas ki dalang.
Ia menambahkan,bahwa acara ini adalah acara sakral yang dimana pada malam harinya akan dilakukan acara pengekepan benda-benda pusaka,dimana tidak sembarangan orang diperbolehkan untuk masuk kedalam tempat upacara berlangsung.setelah itu dilanjutkan dengan acara zikir seribu serta lantunan syair.
"Kami kebetulan punya grup syair yang anggotanya berjumlah 13 orang dan tidak boleh lebih,karna sesuai dengan rukun shalat sebanyak 13"terangnya.
Lebih jauh Wildan menyampaikan,bahwa upacara adat Boteng Kekep tersebut juga mengandung pesan moral,khususnya kepada kepada para pemuda generasi penerus.
"Pesan moralnya adalah,supaya masyarakat disini khususnya para pemuda tau bahwa kita memiliki adat dan memiliki sesuatu (benda-benda pusaka) yang tidak bisa ditukar dan dibeli dengan sesuatu apapun,maka peninggalan leluhur yang sangat bernilai ini harus dirawat dan dijaga sekaligus dilestarikan"tandasnya.
(ss-01)