Lewat Usaha Budidaya Jamur Tiram, Pemuda Asal Montong Gading Ingin Menginspirasi Warga

Selong, suaraselaparang – Merintis usaha bisnis apapun tentunya memang membutuhkan niat, kerja keras, tekad dan ilmu. Terlebih ketika memilih usaha budidaya jamur tiram yang tidak asal jadi, lalu tiba-tiba panen. Namun perlu keluwesan dalam hal perawatan dan semangat pantang meraih kesuksesan.

Semangat untuk sukses itu terus terpatri di dada Suandri, seorang pemuda asal Desa Pesanggrahan Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur. Suandri adalah satu dari sekian pemuda berprestasi yang produktif dengan membuktikan diri di usia muda sudah bisa hidup mandiri dengan merintis usaha budidaya jamur tiram miliknya sendiri.

Saat diwawancarai media suaraselaparang.com pada Jum’at (21/8/2020), Suandri menceritakan awal mula ia mulai merintis usaha budidaya jamur tiram pada tahun 2018, saat ia sering berkunjung ke teman-temannya yang sudah terlebih dahulu bergelut di usaha budidaya jamur tiram. 

“Saya sering berkunjung ke rumah teman-teman petani jamur tiram. Mereka menginspirasi saya untuk mencoba mengembangkan jamur tiram di rumah” terangnya.

Pada tahap awal, Suandri membeli sekitar 100 baglog (media tanam) dengan harga Rp 350 ribu. Kemudian  bibit jamur tiram dipelihara, diamati perkembangan dan hasilnya. Biasanya jamur tiram dipanen setelah 40 hari dari panen pertama. Sebagai ajang promosi, saat panen pertama kali ia membagikan jamur tiram hasil produksinya ke warga kampung sekitar tempat tinggalnya secara gratis. 

“Pada panen pertama kami mebagikan masyarakat di sini, sebagai ajang promosi dan sekaligus sebagai edukasi pemahaman masyarakat, karena selama ini masyarakat belum mengenal jamur tiram dan mereka kira jamur tiram itu tidak enak dan beracun. Alhamdulillah, ternyata setelah dicoba masyarakat disini menyukai rasa jamur tiram ini,” jelasnya.

Kemudian untuk panen selanjutnya, ia menjualnya secara berkeliling kampung dan menjualnya langsung di pasar Montong Gading. Karena permintaan konsumen yang cukup tinggi, ia menambah baglog pembibitan jamur tiram lagi. Suandri belajar membuat baglog di rumah temannya di Aik Mel, kemudian hasilnya ia bawa pulang untuk dikembangkan. 

Saat ini, Suandri sudah bisa membuat baglog sendiri dan ia telah memiliki sekitar 1.000 baglog untuk mengembangkan usahanya. 

Jenis jamur Tiram yang di produksi Suandri terdiri dari jenis Coklat, Sajor-caju dan Hu. Ia merincikan Jenis yang paling bagus adalah jenis Sajor-caju, tetapi tekstur jamurnya agak ringan dan dijual seharga Rp. 20.000 /kg. Sedangkan jenis Hu lebih berat karena kadar airnya banyak dan strukturnya lebih empuk, dijual dengan harga Rp. 20.000/kg. Jamur Tiram jenis coklat merupakan jenis yang paling langka dan agak mahal dibandingkan dengan jenis jamur tiram lain, biasanya dijual dengan harga Rp. 25.000/kg.

Omset yang didapat dari 1.000 baglog berkisar antara Rp 3 - 4 juta dengan biaya produksi sekitar Rp 1,5 juta.

Selanjutnya ia menceritakan, kendala yang yang dihadapi dalam merintis usaha budidaya jamur tiram yaitu bumbung/bangunan tempat perkembangan jamur Tiram belum memenuhi standar, alat dan bahan belum lengkap, termasuk kompor untuk sterilisasi bakteri dan tangki penyemprotan.

“Saya merintis dari nol, dan belum memiliki biaya yang cukup sehingga alat dan bahan yang kami gunakan belum lengkap, sehingga mengakibatkan banyak bibit yang gagal tanam pada saat penyeterilan,” ucapnya.

Terakhir Suandri berharap usaha budidaya jamur tiram yang ia geluti bisa menjadi motivasi bagi teman-teman maupun masyarakat Desa Pesanggrahan, dan usahanya semakin berkembang sehingga bisa menjadi induk budidaya jamur tiram di Kecamatan Montong Gading.

( SS-03 )
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama