Ali Sodikin , Anak TKI penulis novel Dallas



Selong,Suaraselaparang – “Iya, memang tak mudah menjelaskannya,sebab dunia tulis menulis bagi sebagian PMI ( Pekerja Migran Indonesia ) mungkin terdengar sedikit asing.tapi menyimak terus aktivitas saya dan apa yang sering saya ceritakan Bapakpun sedikit  tahu soal novel dan dunia yang saya geluti. Awalnya memang dia tidak begitu setuju saya serius dalam dunia menulis, tapi saya coba untuk menjelaskan dan alhamdulillah lama-lama beliau akhirnya setuju dan malah mendukung penuh, begitu juga dengan ibu dan semua keluarga”

Terang Ali sodikin,salah satu mahasiswa Universitas Hamzanwadi selong jurusan pendidikan bahasa inggris kelahiran Dusun lekong pituk deye desa Tetebatu selatan tahun 1998 ketika diwawancarai suara selaparang pada minggu 28 Juni 2020.

Tak sulit menebak latar belakang keluarganya,sebab boleh dibilang sebagian besar masyarakat pedesaan yang hidup di kawasan kaki rinjani selatan,khususnya wilayah utara kecamatan sikur seperti desa tetebatu selatan,desa Jeruk manis,desa kembang kuning dan desa tetebatu masih bergantung pada sektor pekerja migran,pertanian juga bekerja di sektor pariwisata.

Keluarga kecil Ali sodikin misalnya,ibunya bekerja di restaurant salah satu akomodasi wisata di Tetebatu selatan sementara ayahnya sudah lama berada di negeri Jiran malaysia sebagai pekerja Migran.hal tersebut tentu tidak menjadi halangan bagi anak muda yang juga pendiri komunitas literasi “Cangkir Inspirasi”ini untuk berkarya di dunia tulis menulis dan fokus dengan studinya.hingga akhirnya Ali sodikin dengan berbagai keterbatasan dan pemahaman di dunia tulis menulis berhasil menerbitkan novel perdananya yang berjudul “Dallas”.

Berikut petikan wawancara suaraselaparang dengan penulis novel dallas.

"Berapa lama prosesnya hingga novel perdana ini bisa lahir ??"

Lama dari semua proses hampir satu tahun. Namun yang paling memakan waktu yaitu riset dan editing. Karena dalam proses ini kita harus benar-benar memperhatikan tiap detail, entah kata atau pun jalan cerita.

"Boleh tau apa saja suka dukanya ???"

Di bagian sukanya ya,Alhamdulillah saya merasa mendapat banyak pelajaran dari proses revisi naskah dan juga banyak mendapat pelajaran hidup dari proses riset sebelum melakukan penggarapan naskah. Dan juga banyak dari teman-teman yang mau berbagi cerita, itu mempermudah saya mengembangkan ide-ide yang sudah ada.
Namun saya juga harus berhadapan dengan kendala teknis,saat itu Laptop sempat rusak, yang membuat saya  harus meminjam. Tentu tak setiap hari bisa menggunakan laptop pinjaman karena yang punya kebetulan kawan saya juga menggunakannya. Hal itu Itu mengulur waktu sampai satu bulan dalam pengetikan naskah.selain itu sempat juga mengalami beberapa kali writer block dan parahnya itu sampai dua minggu.

"Sebenarnya ide penulisan novel ini darimana sih ???"

Ide sebenarnya dari novel ini berasal dari diri saya. Awalnya saya kangen dengan masa masa  SMA, tapi saya tidak tau harus berbuat apa, nah dari sana saya mulai melamunkan kerangka cerita ini. dan juga beberapa konflik lahir dari cerita teman saya sendiri, dan juga saya sendiri.sementara judul novel itu sendiri saya ambil dari nama umbi-umbian yaitu Talas namun di plesetkan menjadi Dallas,kebetulan nama itu menjadi salah satu karakter dalam novel tersebut.

"Ada hambatan dalam menulis nggak ???"

Hambatannya seperti biasa,melawan rasa malas saat proses pengetikan dan penyusunan naskah akibat writer block,ide yang macet untuk menyambung alur cerita,dan soal fokus yang mesti ditegaskan karena menulis novel tentu berbeda apalagi selain menulis saya juga harus membantu ibu dirumah mengurus adik adik,kuliah dan tetap konsisten menjalankan kegiatan literasi kecil-kecilan yang saya rintis bersama teman-teman komunitas Cangkir inspirasi.

"Butuh biaya dalam menerbitkan novel perdana ???"

Saya kan penulis pemula yang belum dikenal dan karya saya belum masuk dalam list buku penerbit ternama jadi tentu butuh, terlebih novel saya ini diterbitkan di penerbit Indie.Tapi itu bukan biaya yang cukup banyak, meski begitu hasilnya tetap memuaskan.paling tidak saya melihatnya terbit sebagai novel utuh,bisa dibaca teman-teman dan penikmat novel saya sudah bersyukur karena bagi saya itu cukup untuk memulai langkah awal.

"Soal biaya dapat darimana ???"

Biaya saya kumpulkan dari pinjaman salah seorang teman yang mendukung, biaya dari orang tua dan isi celengan saya.alhamdulillah cukup untuk menerbitkan perdana di jawa.

 "Apaada tips-tips khusus bagi penulis pemula ???"

Menurut saya tidak ada tips khusus yang penting ada niat untuk berkarya, itu saja. dalam dunia menulis kuncinya cuma tiga, yang pertama menulis, yang kedua menulis, dan yang ketiga menulis.dan sekarang saya fokus menulis edisi kedua dari  novel Dallas ini. Karena banyak pembaca yang meminta saya untuk menulis edisi kedua. Dan sembari menulis saya juga intens melakukan promosi di sosial media.

"Apa tidak terganggu dengan mewabahnya pandemi Covid-19 ???"

kalau soal menulisnya saja sih tidak terganggu malah itu bagus, bisa fokus dan tidak ada alasan kuat untuk meninggalkan kamar dan laptop. Tapi yang jadi masalah adalah membangun issue promosi di media sosial, pasti kalah sama pandemi ini.karena yang menjadi trending topic semua media sosial ya Covid-19.dan itu sih sedikit beratnya melakukan branding dan promosi novel saya  saat-saat ini.

 "Apaharapan kedepan terkait novel dallas ini ??"

Sederhana saja,saya berharap semoga proses penggarapan Novel Dalas edisi kedua  lancar, dan semoga bisa masuk ke toko buku. Saya ingat dua  tahun lalu saya pernah main ke salah satu toko buku dan berkata, "suatu saat nanti saya akan menerbitkan sendiri tulisan saya." Dan sekarang itu sudah terjadi, dan itu juga bisa menjadi motivasi saya untuk tidak puas sampai disini.

"Kami mendengar Ali juga mendirikan komunitas literasi kecil-kecilan,apa tujuannya dan apa saja kegiatannya ???"

Ya,kebetulan sebagai saya sejak setahun lalu merintis komunitas baca awalnya sih prihatin dengan budaya baca anak-anak dan siswa-siswa sekolah dasar yang begitu tergerus oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sehingga membaca buku mulai menjadi kebiasaan yang langka dimata mereka maka untuk mewujudkan generasi yang sadar baca mulailah saya membuka spot baca dan perpustakaan kecil dirumah lalu bersama kawan-kawan muda komunitas laskar bintang kami sebut dengan “cangkir Inspirasi”yang kemudian kita kembangkan menjadi komunitas literasi bersama teman-teman peduli literasi lainnya

Kegiatannya apa saja ???

Kita mulai dari hal-hal sederhana,membuka spot baca di rumah,mengajak anak-anak gemar membaca,menyajikan bahan bacaan yang menarik dan ramah untuk mereka,menggelar  Lapak buku, membuat perpustakaan keliling , belajar dan bermain bersama anak-anak , dan terakhir kami menggelar diskusi buku.

"Apa saja kesan menarik selama mengadakan kegiatan literasi ???"

Alhamdulillah menurut saya Perkembangan literasi di Lombok, khusunya Lombok Timur menurut saya beberapa tahun belakangan ini mengalami perkembangan yang cukup baik . mungkin salah satu Salah satu contoh kecil saja terkait kemampuan membaca anak-anak , saya pernah melakukan kegiatan di salah satu wilayah pelosok Lombok Timur, kegiatan saya dan beberapa teman-teman Cangkir Inspirasi ini fokus pada pengembangan budaya baca,mengajak mereka akrab dengan buku dimana kami bermain,membaca dongeng,bercerita,menggambar dan lainnya .
Satu tahun yang lalu, 8 dari 10 anak-anak SD kelas 5 belum mengenal baca tulis, bayangkan ini kelas 5 SD lho. Tapi, sekarang alhamdulillah sudah banyak perubahan. Hampir semua anak-anak yang mengikuti kegiatan kami sudah mengenal baca tulis, bagi kami walaupun sederhana itu pencapaian paling tidak bisa  sedikit membantu pemerintah dalam mengurangi angka buta huruf pada anak.

Redaksi Suara selaparang
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama