Mataram, suaraselaparang, Pada hari Jum'at, (21/08/2020) lalu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menggelar Aksi Dukacita Atas Matinya Rasa Kemanusiaan, aksi tersebut dilakukan di Simpang Empat BI dan Kantor Gubernur NTB. Hal tersebut untuk menyikapi tindakan Gubernur NTB yang yang diduga kerap melakukan ekspor ke Israel yang sudah mencapai Miliaran rupiah.
Adapun yang menjadi tuntutan mereka saat itu adalah, mendesak Gubernur NTB dan jajaran dalam pemerintahan untuk meminta maaf secara resmi dan segera bertaubat atas segala bentuk perbuatan yang di nilai bisa menyakiti hati umat islam khususnya Rakyat Palestina.
Mengutuk sikap pemerintah NTB dalam hal ini Gubernur NTB atas tindakanya yang membangun hubungan kerja sama dengan Israel melalui Dinas Perdagangan dengan alasan apapun karena tidak sesuai dengan amamat dalam pembukaann UUD 1945.
Meminta pemerintah agar tidak lagi melakukan ekspor ke Israel, "Stop ekspor produk UKM NTB ke israel dan putuskan segala bentuh hubungan kerja sama dengan Zionis Israel Laknatullah, " Tandas Deky selaku Korlap aksi
Tak hanya itu, mereka juga menyerukan kepada semua masyarakat NTB ,NGO, dan lembaga kemanusiaan untuk sama - sama mengawal kemerdekaan Rakyat Palestina dan ikut serta menyatakan sikat pemerintah NTB dalam hal ini Gubernur yang bermesraan menjalin kongsi dagang dengan Israel.
Terpisah, Pemprov NTB tidak menjalin kerja sama perdagangan dengan Israel. Meski ada kerajinan yang dibeli Israel, itu murni urusan bisnis para eksporter. ”Pemda tidak pernah melakukan hubungan atau pun perjanjian dagang dengan Israel,” kata Kepala Dinas Perdagangan NTB H Fathurrahman, Minggu (23/08/2020).
Pemda, kata Fathurrahman, dalam hal ini hanya menerima laporan, bahwa tercatat ada ekspor yang dilakukan eksporter dengan tujuan Israel. ”Sesuai dengan surat keterangan asal (SKA) barang yang terinput dalam sistem IPSKA Kementerian Perdagangan,” jelasnya.
Sebelumnya, Fathurrahman menyebut, meski dilanda pandemi Covid-19, ekspor NTB masih menunjukkan tren positif. Hingga awal pekan lalu, nilai ekspor NTB mencapai USD 4,2 juta atau setara Rp 62,6 miliar dengan kurs dolar Rp 14.795. ”Ini di luar komoditas tambang. Jika dengan tambang nilai ekspor NTB mencapai USD 62 juta,” katanya.
Beberapa komoditas juga akan kembali diekspor seperti gula semut dari gula aren ke Korea Selatan. ”Saat ini sedang proses untuk pengiriman,” katanya.
Ekpor USD 4,2 juta itu terdiri dari berbagai komoditas unggulan NTB. Antara lain udang, manggis, kopi, dan kerajinan.
Kerajinan keranjang buah dari alang-alang banyak diminati pembeli dari Israel. Kerajinan itu dikirim sejak tahun lalu, namun berhenti karena pandemi Covid-19. Nilainya hanya USD 4.400 atau setara Rp 64,9 juta dengan kurs dolar Rp 14.770. ”Nilainya kecil. Ini bukan pemda, tapi pihak ketiga antar para eksportir,” jelasnya.
Sementara komoditas jagung dikirim ke Filipina, kemudian tepung ikan diekspor ke China. ”Ekspor ini sejak awal tahun sampai saat ini,” jelas mantan kepala BKD tersebut.
Perkembangan ekspor itu, kata Fathurrahman, menunjukkan ekspor masih tetap berjalan di tengah pandemi Covid-19. ”Cuma persoalannya, dari sisi pemenuhan permintaan yang belum bisa. Seperti udang di Poto Tano sementara tidak beroperasi,” jelasnya.
Dibandingkan tahun lalu, nilai ekspor saat ini masih lebih rendah. Tahun lalu nilai ekspor bisa mencapai USD 12 juta. Pihaknya menunggu sampai akhir tahun untuk melihat perkembangan dan pengaruh pandemi Covid-19. ”Pada dasarnya barang-barang dari NTB masih tetap dikirim,” ujarnya.
Beberapa komoditas seperti gerabah dikirim ke luar tetapi atas nama Bali. Sebab barang tersebut dikirim atas nama Bali. Itu disebabkan pengusaha yang membuat perjanjian bisnis dari Bali langsung. ”Itu yang kita perjuangkan agar apa-apa yang dikirim memiliki SKA dari NTB,” harapnya
(SS-04)