Guru dan Murid Bersinergi, SMA IT Dhia'ul Fikri Terbitkan Buku di Tengah Pandemi


"Berkaryalah Tanpa Mengenal Batas"

Selong, Suaraselaparang,- Berkarya merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan bakat yang dimiliki seeorang, baik dalam bentuk tulisan, musik, lukisan dan lain-lainnya.

"Jika ingin dikenang Sepanjang Masa, Maka Menulislah"

Menulis merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan diri kepada semesta, karena sejatinya menulis mampu mengukuhkan nama seseorang tnpa mengenal masa.

Mengekspresikan diri dalam bentuk catatan, memepengaruhi para pembaca, itu merupakan bagian kecil dari manfaat menulis tentunya, menulis bisa dilakukan kapan saja tanpa harus tersekat keadaan, kala luang juga merupakan kesempatan efektif untuk menulis, lebih-lebih ditengah pandemi Covid-19 ini, tentu akan lebih banyak waktu kita di Rumah.

Situasi ini justru dimanfaatkan dengan baik oleh Guru dan Siswa/i SMA IT Dhia'ul Fikri, walaupun mereka yang kelas 3 SMA harus terpaksa tidak menjalankan program Ujian Nasional (UN) akibat pandemi.

Namun Siapa sangka, siswa/i yang menamakan kelasnya, Kelas Para Cendikiawan (KPC) bersama dengan Kepala Sekolah SMA IT dhia'ul Fikri Muh. Zainal Abidin, S.Pd justru ditengah pandemi begini berhasil menciptakan karya tulis nyata berupa buku "Sebuah Antologi cerita Anekdot" dangan judul "Kami Bukan Malaikat".

Kepada media Suara Selaparang, Muh. Zainal Abidin, S.Pd menjelaskan bahwa, Allah Swt. telah bersumpah bahwa sesungguhnya manusia benar-benar dalam kesia-siaan, kecuali mereka yang memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan spirit itu, "saya menghimpun karya-karya hasil pembelajaran bersama anak-anak KPC (Kelas Para Cendikia) menjadi sebuah antologi seperti sekarang ini"

Sejujurnya, usaha untuk menghimpun karya hasil pembelajaran menjadi sebuah antologi sebenarnya telah terpikirkan sejak dahulu. Bermula dari kegelisahan terhadap rutinitas pembelajaran yang tidak menghasilkan karya nyata. Terlebih seperti di masa pandemi Covid-19 sekarang ini, ketika Ujian Nasional ditiadakan, dan anak-anak hanya diam di rumah menunggu kelulusan mereka. Serta nilai hanya menjadi deretan angka-angka tidak bermakna yang dengan mudah akan terlupakan."tuturnya

Oleh karenanya, "saya bertekad untuk mendokumentasikan seluruh karya hasil dari pembelajaran di dalam kelas untuk kemudian dibukukan menjadi sebuah Antologi. Saya bersyukur, anak-anak KPC (Kelas Para Cendekia) menyambut niat saya dengan penuh antusias, sehingga antologi anekdot yang berjudul “Kami Bukan Malaikat” ini dapat terselesaikan". Jelasnya

Adapun yang menjadi hambatan kami dalam peroses penerbitan ini adalah pada pengumpulan karya karena jarak jauh, namun alhmdulillah semuanya sudah kelar dan seperti saat ini, "Tuturnya Senang.

Sebagai sebuah karya tentu Antologi ini memiliki banyak kekurangan. Namun, spirit di dalamnya tentu harus terus dijaga dan diteruskan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari para pembaca yang budiman. Agar dikemudian hari lahir karya yang lebih baik dan bermanfaat, "Tutupnya

( SS-04)
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama