Mataram, suaraselaparang, Indra Irawan yang berasal dari Dusun Patuh Karya, Desa Lanci Jaya, Kecamatan Manggelewa. Kabupaten Dompu merupakan salah satu nama dari sekian banyak nama yang mampu mengharumkan nama NTB dalam ajang tinju tingkat nasional kelas 60kg, beberapa kali ikut kejuaaraan Indra selalu mengukir prestasi yang gemilang.
Indra yang statusnya juga saat ini sebagai Mahasiswa di UIN Mataram kerap memenuhi penggilan untuk mewakili NTB dalam ajang Turnamen Tinju tingkat nasional, tidak jarang juga ia mendapat job dari masyarakat untuk melatih dan sama-sama berlatih anak-anak mereka dalam olahraga tinju.
Indra juga menyampaiakan kepada media suaraselaparang minggu (28/06) bahwa ia merupakan atlet yang banyk bergelut dibidang olahraga silat, karate, hingga tinju.
"Alasn saya memilih untuk lebih mendalami tinju adalah karena banyaknya motivasi yang masuk dari pelatih, teman latihannya, hingga pihak keluaraga yang mensuport penuh pilihannya "akunya.
Saya melihat bahwa pelatih saya yang juga atlet tinju Murni dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan bahkan menjadi PNS karena prestasinya di bidang olahraga tinju, belum lagi saya melihat teman-teman saya yang rata-rata ikuti cabang olahraga tinju ini menjadi orang yang sukses dan besar.
Maka saya juga harus lebih dari mereka, walapaun saya dari plosok Desa namun saya yakin dan tetap optimisme dalam mengikuti proses bahwa saya pasti bisa lebih dari mereka," pungkasnya.
pertama kali saya mengikuti turnament kejuaraan tingkat nasional di Sumbawa pada tahun 2017 di kelas 60 kg, dan alhmdulillah wasyukurillah saya juara II dalam turnament tersebut karena itupun pengalaman pertama saya.
Selanjutnya saya mengikuti kejuaraan ke-2 di Lombok, tepatnya mataram dalam turnamen tinju se-pulau lombok, dalam turnament ini alhmdulillah saya mampu mengukir prestasi tertinggi dengan menjadi juara pertama dalam ajang tersebut, "jelasnya.
Sayang nya saya sekrang justru banyak hambatan kalau ada turnamen kejuaraan baik tingkat lokal hingga nasional, hal tersebut karena mengingat sering nya antara jadwal turnamen dengan kegiatan kampus yang bentrokan, jadi mau gak mau saya harus priotitaskan kuliah.
Setidaknya saya tetap menjalankan latihan yang rutin, serta mengajar anak-anak komplek kos yang juga antusias di cabang olahraga ini.
Sejauh ini saya masih tetap bersyukur walapun sering adanya hambatan dalam mengmbangakan bakat ini, karena saya menilanyai bahwa hambatan itu justru penyemangat bagi saya, "tambahnya
InsyaAllah lah di kejuaraan berikutnya saya bisa tampil dan ikut bersaing dengan dukungan kampus kepada saya, setidaknya saya menjadi perwakilan dari UIN dalam ajang-ajang turnamen berikutnya. Karena sejauh ini saya juga sudah komunikasikan lebih lanjut kepada pihak dosen yang berwenang,"Tutupnya.
(SS-04)
